Category: Ilustrasi


Garam dan Pengaruh

Salt 1

Sepengetahuan anda, berapa banyak kegunaan garam yang anda ketahui? Mengasinkan makanan. Bumbu utama masak. Obat kumur untuk pereda sakit gigi. Mencegah buah apel dan sejenisnya menjadi coklat dengan segera. Mengusir ular dari lingkungan perkemahan. Berapa banyak lagi yang anda ketahui?

Menurut Salt Institute, sebuah lembaga yang khusus meneliti kegunaan garam dalam kehidupan, ada 14000 kegunaan garam dalam beragam aspek kehidupan! Wow.

Website saltinstitute.org memberikan gambaran dengan gamblang betapa banyaknya kegunaan garam yang tidak banyak kita ketahui. Bukan hanya untuk urusan dapur yang belum kenal (mis. menguji kesegaran telur, menetralkan bau tangan, memperpanjang kesegaran keju) , garam juga berguna untuk keperluan seputar rumah (misalnya, membersihkan bagian bawah oven berkarat, mengusir semut, memperpanjang kesegaran bunga di vas), untuk kesehatan (mis. sebagai obat gigitan nyamuk dan serangga, memperpanjang usia sikat gigi, membersihkan gigi, menyegarkan bau mulut, melegakan tenggorokan gatal), bahkan untuk kebersihan (mis. membersihkan bercak darah di pakaian, dsb). Itu hanya sebagian kecil dari 14000 kegunaan dalam hampir segala aspek kehidupan.

Tidak banyak disadari, garam adalah mineral yang paling berharga di dunia. Namun, harganya tidak akan pernah melambung tinggi karena ketersediaannya yang tidak akan pernah habis selama bumi ada.

Ada begitu banyak hal yang dapat dipelajari dari garam. Ia adalah komposisi kimia yang paling banyak bersinggungan dengan kehidupan manusia–disadari atau tidak. Singkatnya, garam adalah harta tidak ternilai yang tidak terlalu disadari.

Pertama kali membaca data ini, saya tersentak menemukan betapa hebat (namun tidak banyak disadari) pengaruh garam bagi semua orang. Garam dapat memberikan fungsinya berbeda untuk menolong semua orang dalam beragam cara yang berbeda.

Saya menemukan pemahaman baru akan identitas yang Tuhan berikan bagi kita, “Kamu adalah garam dunia”. Tidakkah itu berarti bahwa kita seharusnya “menggarami” setiap pribadi yang kita temui dengan keunikan sentuhan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka? Atau, jangan-jangan selama ini kita mungkin sudah “stag” berpikir bahwa “saya” sudah cukup?

[Source: “http://shine.yahoo.com/event/green/46-smart-uses-for-salt-2270681/” dan “saltinstitute.org”]

Note: Tulisan ini posting pertama dari MaxPastors Club, sebuah blog kumpulan naskah khotbah, ilustrasi, artikel rohani untuk mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan di Indonesia. Saya mengundang anda untuk mengunjungi kami di http://www.maxpastors.wordpress.com.

Tyra Banks, seorang super model dunia yang sangat populer pada masa kini, beberapa waktu yang lalu “mencicipi” kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan pribadinya. Sebagai super model, ia terbiasa untuk hidup dengan penampilan yang glamour, seksi dan kurus sebagaimana layaknya model dunia; kemana pun ia melangkah, begitu banyak orang yang mengenalinya dan mengaguminya. Karena itulah, suatu hari, ia mencoba melalukan sesuatu yang “baru”.

Pagi-pagi benar Banks menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengenakan pakaian khusus yang biasa digunakan dalam film-film untuk mengubah penampilan seseorang menjadi sangat sangat gendut. Ia memakai beberapa kilogram daging palsu, merias kontur wajahnya menjadi terlihat gemuk sesuai dengan porsi tubuhnya. Lengkap dengan tambahan gelambir leher palsu yang membuatnya benar-benar luar biasa jauh dari ukuran seorang super model dunia. Setelah semua persiapan selesai, ia berhasil terlihat persis seperti seorang wanita yang mengalami obesitas dengan berat sekitar 350 pounds (sekitar 175 kg)!

Banks mengenakan semua perlengkapan tersebut sebagai bagian dari acara talkshow yang dipandunya. Beberapa kamera secara sembunyi-sembunyi akan merekam bagaimana masyarakat bereaksi terhadap orang-orang yang sangat sangat gemuk. Kelebihan berat badan secara ekstrim. Obesitas. Banks melakukannya untuk mencoba merasakan apa yang dirasakan mereka-mereka yang mengalami masalah obesitas ini dalam masyarakat.

“Orang banyak memandang saya dengan pandangan yang mengerikan dan tertawa dengan keras di depan saya-itulah yang paling mengejutkan saya,” kata Banks. “Dan persis ketika saya masuk ke sebuah toko ketika ingin berbelanja, saya jelas sekali mendengar seseorang tertawa mengejek. Seketika itu juga! Saya merasa sangat terhina dan terluka.”
Sepanjang hari itu, melalui pengalaman sebagai seorang obese yang menumpang bus umum, berbelanja dan kencan buta; Banks menempatkan dirinya sendiri sebagai bagian dari begitu banyak orang yang obese dan mengalami perasaan terluka dan penolakan yang menyakitkan. “Tidak ada excuse (alasan) untuk bersikap kasar. Tidak ada alasan untuk bersikap menganggap rendah orang lain yang obese. Hal itu sangat menyakitkan. Itulah yang saya alami.” Tyra Banks jelas tidak ingin lagi merasakan pengalaman seperti itu.

Apa yang Banks lakukan dapat dikatakan “sedikit” serupa dengan apa yang Kristus lakukan. Ia berangkat dari wilayah mewah dan nyamannya untuk merasakan kepahitan orang lain. Ia mencoba sedikit mencicipi kepahitan yang tidak ia inginkan lagi di tengah kekaguman dan penghargaan banyak orang padanya selama ini. Namun, Banks hanya sedikit mirip dengan inkarnasi Kristus ke dalam dunia, karena Banks jelas melakukannya karena uang yang ia terima sebagai upah; sebaliknya, bayi Yesus lahir ke dalam dunia justru untuk memberi. Sementara Tyra sangat terpukul dan tidak dapat menikmatinya apa yang dilakukannya, Kristus justru sangat menikmati kehadirannya ke dunia sesulit dan seberat apapun karena kasih!

Ada sebuah kisah tradisi yang telah diceritakan berabad-abad. Kisah tentang Caspar, Melchior, dan Balthasar serta persembahan-persembahan yang mereka bawa bagi Sang Raja yang baru lahir.

Orang pertama dari ketiga orang yang datang itu adalah Caspar. Jubahnya terbuat dari beludru yang paling halus, dan dihiasi bulu yang begitu indah. Pada bagian lehernya terdapat rangkaian permata, karena Caspar begitu kaya raya.

“Saya membawa persembahan,” kata Caspar, dan ia mengangkat tinggi-tinggi sebuah kotak yang dihias dengan begitu indah. Kotak itu kecil namun sangat berat sehingga hampir-hampir ia tidak kuat mengangkatnya. “Saya membawa batangan-batangan emas murni.”
“Persembahanmu harus sesuatu yang merupakan keberadaan dirimu sendiri, sesuatu yang berharga dari jiwamu,” jawab Gabriel dengan wajah murung. “Itulah yang saya bawa,” kata Caspar dengan penuh keyakinan, sementara seulas senyum menghias bibirnya.

Caspar pun maju selangkah, lalu selangkah lagi. Saat ia hedak berlutut dan menaruh emasnya di hadapan sang Putra, tiba-tiba ia berhenti dan menegakkan tubuhnya. Emas ditangannya tiba-tiba berubah menjadi sebuah palu. Kepala palu yang berwarna hitam dan menyeramkan itu lebih besar dari kepalan tangan. Dan panjang pegangannya yang terbuat dari kayu yang amat kokoh itu, sepanjang lengan manusia.

“Tapi, tapi,” kata Caspar gugup. Tergagap, ia tak mampu lagi berkata-kata saat memandang alat berat itu. Kemudian dari arah belakang, ia mendengar suara Gabriel yang lembut. “Begitulah,” ujar sang malaikat. “Kau telah memberikan keberadaan dirimu. Apa yang kau pegang di tanganmu adalah palu ketamakanmu. Kau telah menggunakan palu itu untuk memperoleh kekayaan dengan memeras mereka yang bekerja keras sehingga kau dapat hidup dalam kemewahan. Kau telah menggunakannya untuk membangun rumah yang besar dan indah bagi dirimu sendiri sementara orang lain tinggal dalam gubuk-gubuk.”

Tiba-tiba Caspar dapat memahami kebenaran itu. Dengan tertunduk malu, ia berbalik untuk pergi. Namun Gabriel bergerak menghalanginya, “Tidak, kau memberikan persembahanmu.” “Memberikan palu ini?!” tanya Caspar takut sambil memandangi palunya. “Saya tidak dapat memberikan palu ini kepada Raja!” “Namun kau tetap harus mempersembahkan sesuatu,” kata Gabriel. “Karena untuk itulah kau datang. Dan kau tidak dapat membawanya kembali. Itu terlalu berat. Kau harus meninggalkannya di sini atau itu akan menghancurkan dirimu.”

Dan sekali lagi Caspar menyadari kebenaran kata-kata Gabriel, namun ia masih menyanggah, “Palu ini terlalu berat. Bayi ini tidak dapat mengangkatnya.” “Justru Dialah satu-satunya yang dapat mengangkatnya,” jawab sang malaikat. “Tapi benda ini berbahaya, bisa melukai tangan atau kakiNya.” “Kekuatiran itu harus kamu serahkan ke surga. Palu itu akan menemukan tempatnya sendiri.”

Dan dengan perlahan, Caspar berbalik lagi ke tempat Kristus sang Putra berbaring. Dengan perlahan pula ia meletakkan palu yang jelek itu di bawah kaki bayi Yesus. Kemudian ia berbalik ke arah pintu, berhenti sejenak menoleh sang Bayi mungil Juruselamat dan bergegas keluar.
Orang-orang yang menantinya di luar melihat senyum yang merekah di wajah Caspar saat ia muncul. Tangannya terangkat dengan bebas tanpa beban yang berat seolah ia memiliki sayap seperti malaikat.

Berikutnya, yang masuk adalah Melchior. Ia tampak tidak begitu gemerlapan seperti Caspar karena ia menggunakan jubah biasa yang berwarna gelap. Namun janggutnya yang panjang dan kerutan-kerutan pada dahinya memperlihatkan bahwa ia adalah orang tua yang bijak. Kesunyian meliputi para pengamat saat ia berhenti di depan pintu. Tetapi hanya Melchior yang dapat melihat Gabriel yang berdiri berjaga. Hanya ia juga yang dapat mendengar kata-kata sang malaikat.

“Saya membawa kemenyan, wewangian yang diperoleh dari tempat yang terpencil dan berasal dari zaman dahulu kala.” “Persembahanmu harus sesuatu yang berharga dari jiwamu,” kata Gabriel.

Melchior berdiri dengan nafas tertahan tatkala melihat apa yang ada di dalam. Setelah bertahun-tahun ia lalui untuk mencari kebenaran, ia belum pernah diperhadapkan dengan kemuliaan yang seperti itu. Ia pun berlutut dengan penuh hormat. Dan dari balik jubahnya ia mengeluarkan sebuah bejana perak yang berisi minyak yang sangat berharga. Namun kemudian ia menarik kembali bejananya dengan mata terbelalak. Bejananya yang terbuat dari perak tiba-tiba berubah menjadi sebuah bejana tanah liat biasa yang kasar dan kotor, seperti yang ada di lemari makannya yang sangat sederhana. Ia sangat terperanjat hingga dibukanya tutup mulut bejana itu dan diciumnya isinya. Ia pun terlompat kaget, dan menatap malaikat yang berdiri di depan pintu.

“Saya telah ditipu,” katanya dengan penuh kemarahan. “Yang saya bawa ternyata bukan kemenyan! Ini cuka!”

“Memang begitu,” kata Gabriel, “Engkau telah membawa gambar dirimu. Engkau membawa kepahitan dalam hatimu, anggur asam yang tidak baik karena iri hati dan kebencian. Kau telah membiarkan sakit hati itu di dalam dirimu begitu lama.” Ia mengalihkan pandangannya dari Gabriel dan meraba-raba jubahnya, seolah ingin menyembunyikan bejana itu di balik jubahnya. Diam-diam ia menyingkir ke pintu.

Gabriel tersenyum dengan lembut dan menyentuh lengan Melchior. “Tunggu,” katanya. “Kau harus meninggalkan persembahanmu.” Melchior mendesah dengan berat, “Betapa saya ingin melakukannya! Sudah begitu lama saya berusaha mengeluarkan kepahitan dari dalam jiwa saya. Engkau telah berkata benar, Sobat. Namun saya tidak dapat meninggalkan benda ini disini! Apalagi di kaki Dia yang penuh kasih dan tak berdosa.”

“Tapi kau dapat,” kata Gabriel. “Dan bahkan harus, jika kau ingin disucikan. Disinilah dan hanya ditempat inilah kau dapat meninggalkannya.” “Ini barang yang tidak baik dan pahit, ” kata Melchior. “Bagaimana bila Anak itu menyentuhkannya ke bibirNya?” “Kau harus menyerahkan kekuatiranmu ke surga. Di surga, bahkan cuka pun ada gunanya.”

Masih ada satu tamu lagi yang akan memberikan persembahan. Ia berjalan dengan langkah panjang, punggungnya tegak seperti pohon, bahunya kokoh seperti pohon ek. Ia berjalan bagaikan seseorang yang dilahirkan untuk berkuasa. Dialah Balthasar, pemimpin pasukan tentara yang menghancurkan tembok-tembok kota. Ia membawa sebuah kotak berlapis kuningan.

Lalu terdengar bisik-bisik di antara mereka yang mengamati tatkala Balthasar nampak ragu di depan pintu masuk. “Lihat! Bahkan Balthasar pun menyembah di hadapan Sang Raja yang menantinya di dalam.”
Namun Gabriel menghentikan langkah serdadu perkasa tersebut. “Apakah kau membawa persembahan?” “Tentu saja,” jawab sang jenderal. “Kalau begitu masuklah dan kami akan melihatnya.”

Bahkan Balthasar yang tidak pernah mengenal rasa takut pun tidak siap menghadapi gelombang kekaguman yang melandanya saat itu. Ia belum pernah merasakan lututnya lemas seperti saat itu. Sambil menutup matanya, ia berlutut dan tunduk penuh hormat. Lalu, sementara kepalanya tertunduk hingga hampir sampai menyentuh lantai, perlahan-lahan ia melepaskan genggamannya pada kotak itu, mengangkat kepalanya serta membuka matanya.

Apa yang dibawanya tiba-tiba berubah menjadi tombaknya sendiri. Tombak yang selalu menemaninya berperang. Tombak yang telah menelan begitu banyak nyawa. Balthasar begitu terkejut, “Seseorang pasti telah membuat kutuk bagiku, bukan ini yang kubawa untuk dipersembahkan!”

Namun, Gabriel menenangkannya, “Ini justru lebih dari yang kau mengerti. Beribu-ribu musuh telah mengutukmu dan mengubah jiwamu menjadi sebuah tombak. Tujuan hidupmu hanyalah untuk mengalahkan musuh-musuhmu. Dan itu membuatmu benar-benar hancur. Setiap peperangan yang kau menangkan hanya membuatmu sampai kepada musuh lain yang lebih hebat.”

Balthasar menyadari betapa dalamnya kebenaran yang Gabriel katakan. Dan Ia pun meninggalkan tombaknya untuk dipersembahkan.

Kisah ini adalah gambaran keadaan diri kita di hadapan Tuhan. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Apa yang cukup baik kita persembahkan kepada Tuhan dari hidup kita yang porak poranda? Dapatkah kita mempersembahkan hidup kita yang penuh luka dan cacat ke hadapan Tuhan?

Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.
(Yohanes 14:27a)

Tuhan Yesus berkata dengan jelas sekali, “Apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu…” Apa yang Tuhan berikan yang tidak dapat diberikan oleh dunia?

Philip Yancey menceritakan sebuah pertanyaan Gordon McDonald dalam sebuah percakapan dengannya: Hal apakah yang dapat diberikan gereja [kekristenan] yang tidak dapat diperoleh dunia di manapun juga?

Kita tidak perlu harus menjadi seorang Kristen untuk dapat melakukan aksi soal membantu orang-orang yang kekurangan, pemulung, pengemis, atau pun anak jalanan. Tidak harus jadi orang Kristen untuk memiliki visi membangun sebuah rumah singgah untuk orang-orang membutuhkan. Tidak harus jadi orang Kristen untuk dapat berguna bagi kemajuan bangsa dan negara. Tidak harus jadi orang Kristen untuk dapat berdoa bagi banyak orang. Tidak harus jadi orang Kristen untuk dapat lebih mengasihi orang tua dan keluarga. Tidak harus beragama Kristen untuk dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan, kenyataannya, kita dapat dengan mudah menemukan ada yang banyak orang di dalam dunia ini yang lebih saleh, baik, dan dermawan daripada orang Kristen.
Ada banyak guru, agama, dan tradisi-tradisi yang dapat memberikan ajaran moral yang baik. Jadi, tidak harus menjadi Kristen untuk menjadi orang yang baik.

Lalu… hal apakah yang dapat diberikan oleh kekristenan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia?

Grace. Kasih karunia. Penerimaan tanpa syarat. Yang memerdekakan kita. Yang membawa damai sejahtera. Dan itulah tepatnya Bayi Yesus bawa dalam kehadiranNya di natal pertama.

Sebuah cerita karya Ernest Hemingway menyingkapkan kebenaran tentang anugerah yang kita rindukan.

Seorang ayah Spanyol memutuskan berdamai dengan putranya yang lari ke Madrid. Dengan penuh rasa sesal, sang ayah memasang iklan di surat kabar El Liberal, “Paco temui papa di Hotel Montana hari Selasa tengah hari. Semua sudah dimaafkan. Papa.”

Untuk kita ketahui, Paco adalah nama yang sangat umum di Spanyol. Mungkin serupa dengan nama Budi di Indonesia. Di gereja kita saja setidaknya ada tiga rekan bernama Budi. Nah, ketika sang ayah yang sangat merindukan putranya itu datang ke halaman hotel Selasa siang yang dinanti-nanti itu, ia tidak pernah menduga apa yang akan ditemuinya…. sekitar delapan ratus pemuda bernama Paco menunggu ayah mereka. 800 Paco juga ternyata juga sangat membutuhkan pengampunan ayah mereka.

Bayangkan bagaimana masing-masing Paco itu suatu hari membuka surat kabar dan membaca kalimat itu, “Paco… semua sudah dimaafkan. Papa.” Betapa hati mereka terguncang dipenuhi dengan pengharapan yang besar bahwa iklan itu benar ditujukan bagi mereka. Betapa mereka mengharapkan bahwa papa merekalah yang menulis iklan itu. Betapa hati mereka merindukan pengampunan, penerimaan kembali. Betapa dunia membutuhkan anugerah.

Bayangkan pula betapa kagetnya masing-masing Paco ini menemukan 800 Paco lain yang menanti di tempat yang sama siang itu. Betapa mata mereka terus mencari berkeliling mencari ayah yang mereka rindukan. Dan betapa sakitnya mengetahui bahwa hanya satu Paco yang beroleh anugerah itu, sementara-katakan saja-799 Paco lain harus pulang dengan kekecewaan yang mendalam dan terus mengharapkan pengampunan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.